Copas dari Tetangga sebelah !!! Kejadian aneh jumat 4/11. Biasa nya habis sholat jumat yg hilang itu sendal, nah kemaren yg hilang malah Presiden RI
Mata saya berkaca kaca ketika membaca postingan Randy Bagasyuda.

Inilah yang sedari awal saya sebut aksi damai 4 november adalah Reuni Akbar Umat Islam.

Saya juga melihat di balik banyaknya provokator, presiden Jokowi-lah provokator utamanya sebelum munculnya kericuhan.

Berikut ini kisah Randy dalam aksi damai bela islam:

Indahnya Islam, pengalaman terindah dalam hidup….

4 Nopember 2016, Segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi Maha penyayang…apa yang saya tuliskan disini adalah apa yang saya alami dan rasakan ketika saya menjadi bagian massa di sebelah timur istana dan analisis saya dengan ilmu dan pengalaman saya sebagai mantan aktivis UI.

Kondisi Massa,
Berkali-kali saya tak kuasa menahan air mata yang jatuh tanpa bisa dibendung ketika ruh ini merasakan rahmat dan kasih sayang yang Allah berikan ke dalam hati-hati kami. Kami tidak saling mengenal (saya pun berangkat sendiri tanpa seorang teman) tapi seolah kami sudah saling mengenal lama satu dengan yang lainnya. Saling sapa, salam, berbagi minuman dan makanan yang dibawa untuk bekal, memegangi air untuk berwudhu semua terjadi begitu alamiah tanpa ada komando dari siapapun. Beginilah indahnya islam…

Provokator,
Air mata ini kembali tumpah, ketika kami yang jumlahnya jutaan dan kondisi psikologis para laskar yang sudah siap syahid semua bergerak seirama mengikuti arahan para ulama. Ketika ulama meminta kami duduk, laskar-laskar paling militan sekalipun akan duduk mematuhi perintah para ulama. Sehingga dibarisan kami dapat dengan mudah kami mengenali siapa yang merupakan umat islam dan siapa yang bukan. Ketika ulama meminta kami duduk, ada sekelompok orang malah meneriaki para ulama “ngapain duduk!! Ngapain duduk!!” Orang-orang ini kemudian kami usir dari barisan dan ketika masih ada orang yang memprovokasi, salah seorang laskar langsung meminta KTP orang yang bersangkutan. Dan seperti yang beredar di media sosial ternyata orang-orang ini memang bukan umat islam, seketika itu juga teman-temannya yang meneriaki ulama dan memprovokasi massa hilang entah kemana. Situasi pun sangat kondusif hingga maghrib. Percikan-percikan kecil selama aksi damai masih dalam batas toleransi sebagai dinamika massa.

Selepas maghrib, kami yang diposisi sebelah timur istana menyaksikan letusan, dentuman dan cahaya-cahaya kilat di sebelah utara istana. Saya bersama para laskar yang awalnya duduk kemudian berdiri dan sudah bersiap diri dengan berbagai kemungkinan. Kemudian ulama meminta kami untuk duduk dan tetap tenang. Situasi massa di bagian saya masih sangat kondusif namun sekitar jam 8 malam ditengah situasi kondusif tersebut ada sebagian massa mengaku dari HMI (saya sendiri meragukan bahwa mereka HMI, karena HMI yang sedari awal bergabung dengan kami adalah massa yang cukup tertib, dengan atribut khas HMI seperti kopiah. Sedangkan massa yang memukul aparat tidak cukup meyakinkan sebagai HMI) merangsek ke depan dan memukul-mukul barisan polisi dengan bambu. Para ulama dan laskar yang sedang berusaha menenangkan “massa HMI” justru kemudian ditembaki oleh gas air mata yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan kali. Massa yang awalnya sangat kondusif, hanya karena ulah sekelompok orang tadi justru direspon sangat berlebihan oleh aparat dengan membabi buta menembak. Pemandangan kilatan-kilatan cahaya beterbangan di atas kepala kami seperti perayaan tahun baru. Massa yang tidak siap, sebagian besar dalam kondisi duduk, para ibu dan anak-anak banyak yang jatuh, terinjak, dan pingsan. Sebagai mantan aktivis dan korlap aksi kepung istana bulan mei 2008 saya cukup ahli untuk membedakan mana kerusuhan yang alami dan mana kerusuhan yang memang by design. Jelas sekali kerusuhan semalam adalah by design.

Ditunggangi kepentingan politik,
Selepas kerusuhan massa mundur cukup jauh, disinilah air mata saya kembali tumpah. Kami tidak saling mengenal, tapi kami semua dengan sigap untuk saling membantu korban gas air mata maupun korban lainnya. Sebagian yang memiliki uang berlebih memborong air minum dan membelikan pop mie kepada yang lain. Sementara sebagian lainnya sibuk mengipasi dan mengurus korban-korban yang pingsan. Kemudian atas perintah ulama kami mundur ke istiqlal. Ketika sampai di istiqlal kurang lebih pukul 10 malam saya melihat ribuan umat islam tidur di dalam masjid hingga ditrotoar. Saya menyaksikan situasi yang kurang baik ketika air di masjid istiqlal tidak setetes pun keluar. Apakah air memang habis atau sengaja dimatikan untuk mengusir umat islam dari masjid yang dibanggakannya?
Saya bersama beberapa saudara seperjuangan masih siap sedia menunggu perintah para ulama. Makanan dan minuman tersedia karena kami saling mentraktir orang-orang yang ada di kanan dan kiri kami. Sejurus kemudian ada seorang ulama yang memimpin kami untuk menuju gedung DPR/MPR. Massa yang sudah kelelahan dan tertidur seketika juga bangun dan kembali mempersiapkan diri. Kami long march dari istiqlal ke gedung DPR dan MPR. Situasi serupa, saling berbagi dan saling memberi perhatian kembali saya lihat di gedung DPR/MPR. Makanan dan minuman datang secara tidak terduga dari jamaah-jamaah masjid se jakarta. Saya berbincang dengan salah satunya, seorang Bapak dengan istri dan anaknya mengaku memasak dari siang atas inisiatif pribadi untuk membantu massa aksi “Usia saya tidak memungkinkan saya turun kejalan mas, inilah jalan jihad yang saya dan keluarga tempuh. Semoga Allah ridha dan memaafkan kami yang tidak ikut berjuang dijalanan” Seketika itu si Bapak pun menyeka air matanya.
Saya melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana umat islam seperti semu-semut yang saling tolong-menolong dan bekerja atas inisiatif pribadi tanpa komando dari siapapun.

Lalu saya ingin bertanya kepada pak jokowi “Siapakah orang yang menunggangi?” Sungguh tuduhan Bapak teramat keji menodai keikhlasan dan keindahan persaudaraan kami.

Untuk Pak Jokowi,
1. Bapak harus sadar, bahwa bapak menjadi presiden hingga hari ini adalah karena para ulama berhasil menahan amarah massa kepada Bapak. Dengan kekuatan sebesar kemarin, demi Allah teramat mudah bagi kami untuk sekedar menduduki istana karena posisi kami sudah persis disamping pagar istana. Jikalau para ulama memerintahkan kami untuk menduduki istana, Demi Allah tidak ada keraguan sedikit pun dihati kami untuk menjadi syuhada di halaman istana.
2. Tuduhan keji bapak bahwa kami ditunggangi menjelaskan dengan gamblang bahwa tim intelijen dan orang-orang pembisik Bapak adalah orang-orang yang tidak kompeten. Saya menjadi saksi bahwa mereka semua bergerak atas inisiatif dan uang pribadi.
3. Andaikan Bapak menemui para ulama sebenarnya massa pun akan meninggalkan istana dengan damai, Jadi maafkan kalau saya harus mengatakan bahwa ketiadaan Bapak untuk menemui para ulama adalah bagian dari design agar aksi kemarin berakhir ricuh.
4. Bapak bilang bapak tidak bisa mengakses jalan ke istana, bukankah pak JK juga bisa dijemput dengan helikopter dan mendarat dengan selamat di monas.

Terima kasih Allah, Tuhan semesta Alam….Engkau telah memberikan aku sebuah kenikmatan yang bahkan hingga hari ini sulit saya jelaskan dengan kata-kata. Kenikmatan Islam, kenikmatan ukhuwah, kenikmatan iman….

Kapanpun ulama kami meminta kami kembali kejalan, Demi Allah hanya maut yang akan menghalangi kami…

Bekasi, 5 Nopember 2016

Randy Bagasyudha

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY