Tidak bisa dipungkiri, hingga masih ada di kalangan ummat islam yang awam dan juga sebagian kecil parameter Syiah di Indonesia  yang menggangap sekte Syiah sebagai salah satu madhzab Islam, dan bahwasanya perbedaan antara Islam dan Syiah hanyalah perbedaan pemahaman antar-madhzab yang harus disikapi secara obyektif dan toleran.

Besar kemungkinan kesalahpahaman ini disebabkan oleh:

Pertama, Belum memahami Islam secara “Kaafah” (integral) terutama pada fungsi Al-Quran sebagai “ Al Furqon” (QS. Al Baqoroh, 2:185) pembeda dan pemisah antara yang hak dan yang bathil. ‘sehingga berakibat tidak mudah bagi yang bersangkutan memahami “ Al farku bainul mu’min wal kafir” perbedaan antara mana yang mu’min dan mana yang kafir’.

Kedua, Cukup memahami Islam, namun belum mengenal ajaran-ajaran Syiah yang sesungguhnya. Sangat mungkin karena belum mempelajari Syiah dari sumber aslinya. Mungkin juga di sebabkan di antaranya oleh keberhasilan ber”taqiyyah”nya para tokoh syiah dengan menampakan ke permukaan, seakan-akan ajaran Syiah secara prinsip tidaklah berbeda dengan islam, dan bahwasannya perbedaan yang ada hanyalah dalam masalah furu’iyyah, sehingga tidak patut ajarannya dihukumkan sesat di luar Islam.

Di antara sekian banyak aliran sesat yang pernah ada, syiah termasuk yang tertua dan terbilang yang paling tidak ada kesamaan dengan Islam. Dari aspek apa pun, terutama dalam “Ushulud dien” (pokok-pokok Agama) akidah dan syariatnya berbeda dari A sampai Z, dengan Islam. Bukan hanya berbeda, ajaran-ajarannya pun penuh dengan berbagai hujatan yang sangat menodai dan menghina yang disucikan dan dimuliakan Islam dan ummat Islam. Karakateristik ini sangat mudah dipahami, karena syiah lahir di tengah-tengah konflik politik dibidani Yahudi lewat figurnya Abdullah bi Saba yang berhasil memperuncing bibit perpecahan, setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan RA si Siffin, yang terkenal dengan peristiwa at-Tahkim(Arbitrasi).

Fakta historis ini sangat sulit dibantah Syiah, bahkan diakui dan dinyatakan sendiri oleh para tokoh Syiah semisal Al Qummi, yang dalam bukunya Al Maqalaat wl firaq di antaranya menyatakan, bahwasannya Abdullah bi Saba adalah orang pertama yang mencela Abu Bakar, Umar bi Khaththab, Utsman bi ‘Affan dan para sahabat lainnya. Ungkapan yang sama juga dinyatakan An-NUbahkti Al Kisyi dan juga tokoh Syiah kontemporer seperti Muhammad Ali Al Mu’allim dalam bukunya Abdullah bin Saba al Haqiqatul Majhuulah.

Dengan demikian, ideology syiah sejak awal terbangun di atas pondasi kebencian terhadap Islam dan dendam para Sahabat. Selama berabad-abad hingga dengan saat ini, Syiah mewarisi kebiasaan Abdullah bin Saba dalam mencaci-maki para sahabat, terutama saat merayakan hari-hari besar mereka seperti Asy-Syura. Bahkan, bukan hanya mencela para sahabat dan istri-istri Rasulullah SAW, mereka pun juga menistakan dan merendahkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

  1. MENGHINA ALLAH SWT

para tokoh Syiah semisal Al Mufid dalam kitabnya, “Awail al muqalaat, al Qummi dan Abu Manshur Ahmad bin Ali al Thabarasi meyakini dan sepakat menyatakan, bahwasannya telah terjadi “tahrif” (interpolasi) Al Qur’an dan bahwasannya Al Qur’an yang ada saat ini palsu tidak asli, karena telah mengalami pengurangan keontentikan (orisinalitas) Al Qur’an. Jika pun ada di antara orang Syiah seperti Murtadha al-Shadiq dan al Thabarasi yang dalam penyataaanya terkesan seakan-akan berkeyakinan tidak ada tahrif’’, maka itu sesungguhnya hanya karena merka sedang bertaqiyyah.

Salah seorang tokoh Syiah di Indonesia, Tajul Muluk alias H. Ali Murtadha yang nampaknya sudah tidak tahan untuk selalu bertaqiyyah, akhirnya menanggalkan baju kemunafikannya tersebut dengan memuntahkan ajaran-ajaran syiah yang diyakininya. Dengan lantangnya di hadapan masyarakat Muslim, Tajul Muluk menyatakan, “Wajibnya mengkafirkan sahabat-sahabat dan para mertua serta beberapa istri Nabi Muhammad SAW dan bahwasannya Al Quran yang berada di tangan kaum muslimin saat ii tidak otentik atau tidak orisinil, dan bahwasannya yang orisini sedang dibawa oleh Imam Mahdi al Muntadzor yang sekarang ini sedang ghaib.

Jika pun kita menyaksikan orang-orang syiah sekarang ini membaca Al Qur’an, maka sesungguhnya mereka sedang membaca yang mereka yakini bukan firman Allah SWT.

Mereka membaca Al Qur’an hanya sekedar bertaqoyyah , sambal menunggu kehadiran Imam Mahdi al Muntadzar yang akan membawa kitab suci yang asli. Demikian keyakinan mereka sebagaimana yang diriwayatkan dari Salim bi Salamah, bahwasaannya seorang pria telah membaca (Al Qur’an) di hadapan Abu Abdillah as (Ja’far Ash-Shiddiq) dan kerika mendengar beberapa bacaan yang tidak sama dengan bacaan orang-orang pada umumnya, maka Abu Abdillah as berkata, “Berhentilah membaca qiraat ini”. Bacalah seperti yang biasa dibaca oleh kebanyakan orang, hingga datang Al Qo-im (Al Mahdi). Bila Al-Qo-im telah dating, maka dia akan membaca Al Qur’an aslinya.

Sungguh sangat sulit diterima akal sehat jika orang-orang Syiah meyakini Al Qur’an yang ada di tangan ummat Islam sekarang ini sebagai kitab suci, sementara mereka mengkafirkan beberapa sahabat rasul yang telah dijamin oleh Allah SWT ahli surga. Termasuk di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar bin Khaththab RA, dan Utsman bin Affan Ra, di mana pada masa pemerintahan merekalah lembaran-lembaran Al Qur’an mulai dihimpun dan akhirnya dibukukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan bin Affan R, sehingga terkenallah dengan sebutan Mushaf Utsmani.

Syiah, meyakini Al Qur’an yang asli adalah Mushaf Fatimi (dinisbatkan kepada nama Fatimah putri Rasulullah SAW) yang konon disusun oleh Ali bin Abi Thalib, Jumlah ayatnya mencapai 17.000 ayat, tiga kali lebih tebal dari Al Quran. Al Kulaini dalam Ushul Kaafi mengutip berbagai riwayat di antaranya dari jabir, bahwasannya dia mendengar Abu Ja’far berkata: “ Barangsiapa yang mengaku telah mengumpulkan Al Qur’an dan membukukan seluruh isinya sebagaimana yang diturunkan Allah, maka sesungguhnya ia seorang pendusta. Tidak ada yang mengumpulkan dan menghafalkan sebagaimana yang diturunkan Allah melainkan Ali bin Abi Thalib dan pada imam sesudahnya.

Al Kulaini juga menukin riwayat dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah, beliau berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ada 17.000 ayat”

Dengan keyakinan seperti ini, syiah bukan hanya saja telah menista Rasulullah SAW yang diutus Allah SWT mengemban risalah Islam dengan Kitab Suci Al Qur’an, namun juga telah menghina Allah SWT yang menurut mereka “telah gagal” memenuhi janji-Nya untuk menjaga kesucian Al Qur’an (QS. AL Hijr, 15:9).

Dengan kekufuran mereka kepada kesucian Al Qur’an, harusnya tidak ada lagi orang muslim yang ragu akan kesesatan ajaran dan kufurnya pengikut syiah, karena jangankan mengkufuri seluruh, sebagian, atau hanya beberapa Ayat Al Qur’an, keimanan Iblis pun akhirnya dinyatakan gugur dan berujung dengan laknat Allah SWT hanya karena mengkufuri satu perintah Allah SWT.

Ibnu Wadamah al Magdisi menyatakan : “Tidak ada perbedaan antara kaum muslimin bahwasannya orang yang mengingkari satu surah, atau ayat atau kata, atau hurud dari Al Qur’an disepakati telah kafir yang karenanya harus diberlakukan hokum keadanya sebagaimana lazimnya orang-orang kafir pada umumnya.

Hinaan yang tidak kalah kejinya juga dinyatakan syiah dengan menetapkan sifat Bada’ kepada Allah SWT. Bada’ secara etilmologi artinya “jelas”. Maksudnya, yang semula tidak jelas kemudian menjadi Nampak atau yang sebelumnya tidak diketahui, sekarang bisa diketahui. Dengan pengertian ini, maka sifat bada’ sangatlah mustahin bagi Allah SWT. Namun dengan kejinya Syiah menisbatkan sifat bada’ kepada Allah SWT.

Fitnah yang luar biasa ini diungkap dalam Ushulul Kafi, kitab rujukan utama syiah. Di mana disebutkan suatu riwayat dari Rayyan bin al shalt ia berkata : “ Aku pernah mendengar  Ar Ridha berkata: “Allah tidak mengutus Nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamkan khamar dan menetapkan sifat bada’ kepada Allah

Abu Abdillah berkata: “Tidak ada ibadah kepada Allah yang lebih mulia daripada berkeyakinan adanya sifat bada’ kepada Allah.

Dengen menisbatkan sifat bada’ kepada Allah SWT, syiah telah menetapkan sifat “jahl” (kebodohan) kepada Allah SWT, Allahu Akbar ! Maha Suci Allah dari tuduhan yang teramat keji ini, karena dalam keyakinan setiap segala sesuatu. Dzatnya tidaklah terikat oleh “waktu”, yang notabene makhluk ciptan-Nya. Bagi-Nya masa lalu, kini dan masa yang akan datang, semua ada dalam ilmu-Nya.

Allah SWT Dzat yang maha Ghaib dan hanya Dia Yang Maha Tahu yang Ghaib. Tidak ada satu makhluk pun, baik malaikat, jin maupun manusia yang dapat mengetahui yang ghaib (QS. An-Naml, 27:65) kecuali para Rasul yang dibukakan kepada mereka pintu alam ghaib (QS. Al-Jinn, 72:26-27.

Dengan kata lain, para rasul pun hanya bisa melihat yang ghaib saat pintu alam ghaib dibuka. Sementara anak kunci pintu alam ghaib selamanya bersama Allah, tidak pernah diserahkan kepada siapa pun makhluk-Nya ( QS. Al An’am,6:59)

Jika di satu sisi syiah menisbatkan Allah dengan ketidaktahuan, maka di sisi lain syiah justru meyakini para imam mengetahui yang ghaib. Ja’far Ash Shadiq berkata : “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa yang ada di surga dan neraka, aku mengetahui perkara yang berlalu dan perkara yang akan datang”

  1. Menghina RASULULLAH SAW

jika Al Qur’an yang sudah dijamin keasliannya oleh Allah SWT dikufuri, maka sangat masuk akal bila syiah juga mengkufuri sumber hukum kedua setelah Al Qur’an, yakni Sunnah Rasulullah SAW.

Kufurnya syiah terhadap Sunnah Rasulullah SAW, bermula dari caci-maki dan tuduhan kafir mereka terhadap para sahabat, berujung kemudian dengan penolakan terhadap seluruh ungkapan dan riwayat para sahabat yang menurut mereka mengandung dusta dan fitnah. Artinya , mereka telah menuduh Rasulullah SAW telah menyebarkan dusta dan fitnah, karena apa yang diriwayatkan oleh para sahabat tersebut adalah Hadist yang bersumber dan ucapan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW.

Syiah juga mengkufuri seluruh hadist yang diriwayatkan dari ummul mu’minin ‘Aisyah RA yang juga kafir menurut mereka. Padahal, dari istri Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai dan sangat cerdas inilah banyak diriwayatkan hadist. Terutama hadist-hadist yang terkait dengan kehidupan berumahtangga, khususnya masalah-masalah sensitive yang sangat tidak mungkin diketahui dan diriwayatkan kecuali oleh beliau sebagai istrinya.

Konsekuensi dari doktrin ajaran seperti ini, syiah mengkufuri seluruh hadist Rasulullah SAW. Menolak keabsahan Al Kutubus Sittah : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi, Sunan Nasa’I, dan Sunan Ibnu Majah.

Syiah hanya mengakui riwayat-riwayat yang bukan hadist, karena tidak bersumber dari Rasulullah SAW, tapi dari ungkapan-ungkapan yang konon menurut mereka bersumber dari Ahlul Bait yang diriwayatkan dari imam-imam syiah yang terdapat dalam empat kitab utama rujukan mereka: al Kaafi, at Tahdzib, al Istibsar dan Mania Yadhurruhul faqih. Padahal , semua yang mempelajari sejarah tentunya maklum, bahwasanya imam-imam Syiah yang mereka maksud tidak ada yang lahir dan atau hidup pada zaman Nabi Kecuali Al bin Abi Thalib, Hasan dan Husein R’anhum.

Syiah tidak hanya saja mengkufuri as Sunnah dalam bentuk “afaal” (perbuatan-perbuatan), “aqwal)” (ucapan-ucapan) dan “taqrir” (sikap) Rasululullah SAW yang hakikatnya juga firman Allah SWT (QS An Najm, 53:3-4) dan yang juga dilindungi keontentikannya oleh Allah SWT (QS. Al Hijr, 15:9) mereka juga dengan kejinya menghina para Nabi dan Rasul.

Di antara hinaan yang teramat keji adalah, tatkala mereka menyatakan, bahwasannya keduabelas imam syiah itu lebih mulai derajatnya dibandingkan Nabi dan “maqom” (kedudukan) para imam itu tidaklah bisa dicapai oleh para malaikat dan para Nabi yang diutus.

Khumaini tidak hanya merendahkan para Nabi dan Rasul di bawah para imam Syiah, tapi (subhanallah, Allahu Akbar) dia bahkan berkeyakinan para imam itu sederajat dengan Allah SWT, karena “Sesungguhnya ajaran para imam adalah seperti ajaran Al Qur’an tidak khusus bagi suatu bangsa, akan tetapi untuk seluruh manusia pada segala zaman dan tempat, serta wajib dilaksanakan dan diikuti sampai hari kiamat.

Semakin tinggi dan mulianya para imam syiah, dan semakin rendahnya Rasulullah SAW ketika Khumaini menghina Rasul dengan kekurangan dan ketidakmampuannya dalam mewujudkan keadilan Ilahi. Demikian pertanyaan Khumaini yang dimuat Majalah “Impact International” terbit di London dalam Bahasa Inggris dan majalah “Ishlah” terbit di Lahore Pakistan dalam Bahasa Urdu.

Padahal Allah SWT telah sempurna menurunkan Risalah-Nya kepada Rasulullah SAW (QS. Al Maidah, 5:3) dan Allah SWT telah pula menyatakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu(Muhammad) kitab dengan kebenaran, agar engkau hukum manusia dengan apa yang Allah tunjukan kepadamu (qs. An-Nisaa, 4:105)

Kehadiran Syiah dengan berbagai ajaran sesatnya, terutama hinaan mereka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan ujian yang sangat serius bagi akidah setiap mu’min, karena standar keimanan yang paling mendasar bagi setiap mu’min, dia harus mampu membuktikan selama hidupnya, bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta dia kepada dunia dan segala Isinya(Qs. Al Baqarah, 2:165;At Taubah, (:24). Akidah menuntut setiap mu’min untuk hanya mencintai yang dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya, dan membenci setiap yang dibenci Allah SWT dan Rasul-Nya.

Untuk membuktikan kemurnian dan ketulusan cintanya, setiap mu’min harus siap mengorbankan yang dicintai di dunia, baik waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa, kalua memang hanya dengan pengorbanan seperti itulah ridho Allah bisa digapai dan ummat terhindar dari ajaran-ajaran yang sesat dan menyesatkan.

#tobecontinue

#sumber Athian Ali Moh. Da’i

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY