Siapakah Syiah Itsan Asyariyah?

  • Alhadulillah, shalawat dan salam terhatur pada Rasulullah SAW dan siapa saja yang berwala’ kepadanya, kepada keluaraga dan para sahabat, tabi’in dan orang yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
  • Berikut kamu sajikan serial ringkas yang membuat mata kaum muslimin terbelalak dan melihat secara nyata doktrin-doktrin kelompok menyimpang agar mereka dapat mewaspadainya, apalagi sekarang ini suara mereka semakin membahana dan aktifitas mereka dalam menyebar kebatilan semakin giat.
  • Serial ini kami mulai dari penyingkapan fakta kesesatan kelompok Syiah Itsan Asyariyah secara khusus dan kelompok-kelompok Syiah lainnya karena keberadaan mereka di lapangan lebih dominan seperti Iran, Irak, dan Teluk…
  • Kelompok ini selalu berkilah dan mengaku bahwa madzhab mereka tidak jauh berbeda dengan madzhab Ahlus Sunnah, bahkan menurutnya mereka telah terzhalimi oleh tuduhan-tuduhan dusta. Besar perhatian mereka dalam membela madzhabnya, dengan mempublikasikan melalui penyebaran kitab-kitab dan risalah-rsalah ringan, lalu menelusuri dan meneliti kitab-kitab Ahlus Sunnah untuk kemudian menyerangnya dengan gelombang kritik yang luar biasa jumlahnya yang tidak pernah didapatkan sebelumnya dari kelompok lain.
  • Tumpah ruahnya kitab-kitab Syiah di berbagai tempat dengan beraneka ragam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, memaksa kamu untuk sebuah kewajiban mengungkap fakta penyelewengan dan kesesatan aqidah mereka, meskipun mereka berupaya maksimal untuk selalu menutupinya.

Sebagai mana kata orang “Kami akan membalas dengan lisan kalian sendiri”

  • Seraya memohon kepada Allah Yang Maha Suci agar selalu mengangkat bendera Islam setinggi-tinggingyam dan menghinakan kebatilan serendah-rendahnya.

Ditulis oleh Muhammad bin Abdullah

Asal Madzhab Syiah

  • Termasuk aqidah Syiah Itsna Asyariyah mereka mengaku dengan sadar: bahwa Syiah berasal dari seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, dan Ali bin Abu Thalib RA telah membakar mereka dengan api serta berlepas diri darinya.

Lihat: Kitab Firaq as-Syiah an-Nukhbati, hal. 22, dan kitab Ikhtiyar Makrifat ar-Rajal, oleh at-Thausi hal. 107.

  • Mereka pula yang bekata dengan sendirinya dan mengaku dengan bangga kerean bisa dijuluki Rafidhah (menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar Ra)

Lihat: Kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majilisi (65/97)

 

Aqidah Syiah tentang Allah SWT

  • Syiah berkata: Kami tidak sepakat dengan mereka (Ahlus Sunnah) tentang Ilah (Tuhan), Nabi dan imam. Karena mereka berkata: bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang mengutus Muhammad SAW sereka sebagai Nabi-Nya dan mengangkat Abukar RA sebagai khalifah sesudahnya. Kami tidak mengakui Tuhan dan Nabi yang begini, tapi menurut kami; sesungguhnya Tuhan yang mengangkat Abu Bakar sebagai kahlifah Nabi-Nya bukan Tuhan kamu, dan Nabi-Nya pun bukan Nabi kami.

Lihat: Kitab ak-Anwar an-Nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (2/278)

  • Syiah berkata: Allah tidak bisa dilihat pada Hari Kamat, dan Allah SWT tidak bisa disifati dengan tempat dan waktu, tidak pula bisa ditunjuk dengan arah.  Brangsiapa yang berkata bahwa Allah turun ke langit dunia, atau Dia menampakkan wujudnya-Nya kepada penduduk Surga yang terangnya seperti rembulan di tengah malam, atau semacamnya itu, maka statusnya adalah kafir.

Lihat: Kitab Aqad al-Imamiyah, oleh Muhammad Ridha Muzhaffar hal. 58.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah SWT akan menggandeng orang Mukmin pada Hari Kiamat, dan orang Mukmin juga menggandeng Rabb-Nya sembari menyebutkan dosa-dosanya.

Lalu dinyatakan sebagaimana cara dia menggadeng-Nya?

  • Syiah berkata: (dia menunjukkan) dengan cara meletakkan tangannya di pusarku. Lalu berkata: dengan cara begini, seperti seorang yang sedang berbisik kepada temannya tentang suatu rahasia.

Lihat: Kitab al-Ushul as-Sittah Asyarm tahqiq Dhiya’uddin al-Mahmudi hal. 203.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah turun ke bumi pada Hari Arafah di saat pertama matahari tergelincir di atas unta yang membuang kotorannya kemudian orang-orang yang berada di Arafah saling merebut dan menyerbu kedua pahanya dari arah kanan dan kiri.

Lihat: Kitab al-Ushul as-Sittah Asyar, tahqiq Dhiya’uddin al-Mahmudi hal. 204.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya menhadap kuburan adalah perkara yang lazim dilakukan, meski arahnya tidak sesuai dengan arah kiblat, begitu pula peziarahnya kubur yang menghadap kuburan berada dalam posisi sama dengan kiblat, arah di mana Allah berada dan orang-orang diperintahkan untuk menghadapnya pada saat ziarah.

Lihat: Kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majlisi(101/369)

  • Syiah berkata: Sesungguhnya “Aah” termasuk nama-nama Allah yang baik. Karena itu, siapa yang berkata “Aah” maka secara otomatis dia telah beristighatsah kepada Allah.

Lihat: Kitap Mustadrak al-Wasail, oleh Nuri at-Thabarsi (2/148)

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah SWT mengunjungi al-Husain bin Ali Ra dan berjabat tangan dengannya lalu duduk bersama di atas ranjang.

Lihat: Kitab Shahifah al-Abrar, oleh Mirza Muhammad Taqi (2/140)

 

Doktrin Syiah tentang Distorsi al-Quran

  • Syiah berkata: Bahwa al-Quran yang berada di tangan Muslimin sekarang telah terdistor dan terkurangi dari teks semestinya. Menurut mereka, al-Quran dengan teks sebenarnya masih ada bersama al-Mahdi yang masih bersembunyi.

Dan di antaranya tokoh penting Syiah Imamiyah yang berkata demikian adalah: Ali bin Ibrahim al-Qummi, Nikmatullah al-Jazairi, al-Faidh al-Kasyani, Ahmad at-Thabarsi, Muhammad Baqir al-Majlisi, Muhammad bin an-Nu’man yang berjuluk al-Mufid, Abu al-Hasan al-Amili Adnan al-Bahrani, Yusuf al-Bahrani, Nuri at-Thabarsi, Habibullah al-Khu’ie, Muhammad al-Ayyasyi Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini, dan sebagainya.

Lihat: Kitab as-Syaiah al-Itsna Asyariyah wa Tahrifu al-Quran, oleh Muhammad Saif, dan kitab Mauqif ar-Tafidhah min al-Quran al-Karim, oleh Mamadu Krambery

  • Syiah berkata: Sesungguhnya lafazh “Aalu Muhammad (keluarga Muhammad)” dan “Aalu Aliya (keluarga Ali” telah dihilangkan dari teks al-Quran.

Lihat: Kitab Minhaj al-Bara’ah Syarhu Nahji al-Balaghah, oleh Habibullah al-Khu’ie (2/216)

  • Syiah berkata: Sesungguhnya tidak ada yang menghimpuni dan membukakan teks al-Quran kecuali para imam (Dua Belas). Merekalah yang tahu ilmu dan isinya seluruhnya.

Lihat: Kitab Ushul al-kahfi, oleh al-Kulain (1/228)

  • Syiah berkata: Al-Quran tidak bisa dijadikan hujjah kecuali bersama imam.

Lihat: Kitab Ushul al-Kahfi, oleh al-Kulaini (1/169)

  • Syiah berkata: Sesungguhnya di sana ada surat bernama al-Wilayah, yang dimulai dengan ayat:

29451

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah terhadap dua cahaya”

Namun menurut mereka Utsman bin Affan RA telah menghilangkannya.

Lihat: Kitab Fashlu al-Khitab fi Tahrifi Kitab Rabbi al-Arbab, oleh Nuri at-Thabarsi hal. 18.

  • Syiah berkata: Di sana terdapat mushaf bernama mushaf Fathimah RA, dan isinya tiga kali dari al-Quran kita sekarang ini.

Lihat: Kitab Ushul al-Kafi, oleh al-Kulaini (1/239)

Para pengubah firman Allah SWT berkata tentang firman-Nya :

29452 (2)

“Sampaikanlah apa  yang diturunkan oleh Rabbmu kepadamu jika kamu tidak melakukannya maka kamu (dianggap) tidak menyampaikan risalah-Nya. ” (Al-Maidah: 67)

Lalu mereka ubah dengan :

29452 (3)

“Sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhanmu Kepadamu-tentang Ali-jika tidak kamu tidak lakukan maka kamu di (dianggap) tidak menyampakan risalah-Nya”

Mereka menambah “Tentang Ali”!!

Maksudnya, menurut Syiah: Nabi Saw lupa atau tidak menghiraukannya, mungkin karena beliau takut kepada kaum munafik, sebagaimana dalam hadits-hadits mereka sendiri menyatakan hal itu secara jelas.

Lihat: Kitab Fashlu al-Khithab fi Tahrifi Kitab Rabbi al-Arbab, oleh Nuri at-Thabarsi, hal. 182.

  • Syiah berkata: Tidak boleh menolak orang yang berpendapat bahwa al-Quran “ats-Tsiqal al-Akbar” telah terdistorsi, tapi justru orang tersebut dianggap sebagai mujtahid, sementara orang yang mengingkari wilaya Ali “ats-Tsiqal al-Asghar” dihukum kafir tanpa ada keraguan dalam kekufurannya.

Lihat: Kitab alI’tiqadat, oleh Ibnu Babawaih al-Qummi hal. 103.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya para imam memerintahkan untuk tetap membaca al-Quran yang ada sekarang baik dalam shalat atau lainnya, serta mengamalkan hukum-hukumnya sampai muncul imam al-Mahdi pemimpin akhir zaman. Lalu al-Quran sekarang terangkat ke langit dan keluarlah al-Quran yang dihimpun oleh Amirul Mukminin untuk dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya.

Lihat: Kitab al-Anwar an-Nu’manuyah, oleh Nikmatullah al-Jazari (2/363)

  • Syiah berkata: Janganlah kalian mengajarkan istri-istri kalian surat Yusuf dan jangan membacakannya pada mereka, karena di dalamnya terdapat banyak fitnah. Tapi bacakanlah surat an-Nur karena di dalamnya terdapat banyak faidah.

Lihat: Kitab al-Furu’ min al-Kafi, oleh al-kulaini, (5/516)

 

Doktrin Bahwa Imamah adalah Rukun dan Vonis Kafir bagi yang Tidak Mengimaminya

  • Syiah berkata: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak meyakini imamah (para imam Syiah) sampai mereka mau meyakini dan mengimaminya.

Lihat: Kitab Aqaid al-Imamiyah, oleh Muhammah Ridha Muzhaffar hal. 78.

  • Syiah berkata: Imamah adalah kelanjutan dari Nubuwwah, dan dalil yang mewajibkan diutusnya para nabi dan rasul menjadi dalil yang mewajibkan diangkatnya imam setelah Rasul.

Lihat: Kitab Aqaid al-Imamyah, oleh Muhammad Ridha Muzhaffar hal. 88.

  • Syiah berkata: Imamah adalah mandat Ilahiyah yang dipilih langsung oleh Allah SWT dengan ilmu-Nya terdahulu atas hamba-Nya, sebagaimana kenabian yang hanya dipilih langsung oleh Allah. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan hal ini, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya.

Lihat: Kitab Ashlu asy-Syiah wa Ushuluha, oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghita’ hal. 102.

Bahkan Imamah merupakan dasar dan rukun agama, tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakininya, dengan kata lain: “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian”

  • Syiah berkata: Orang yang enggan mengingkari Imamah Amirul Mukminin

Ali bin Abu Thalib RA dan para imam sesudahnya, seperti orang yang enggan mengingkari kenabian para nabi. Sementara orang yang mengakui Imamah Amirul Mukminin dan mengingkari salah satu di antara imam-imam sesudahnya, maka posisi dia seperti orang yang mengakui seluruh nabi namun mengingkari kenabian Muhammad SAW.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya orang yang mengingkari Imamah salah satu Imam Dua Belas, seperti orang yang mengingkari kenabian para nabi.

Lihat: Kitab Minhaj an-Najat, oleh al-Faidh al-Kasyani hal. 48

  • Syiah berkata: Syiah Imamiyah telah sepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam dua belas, dan membangkang dari kewajiban taat kepadanya, maka dia kafir dan sesat, dan berhak kekal di dalam neraka.

Lihat: Kitab Haqqu al-Yaqin fi Makrifati Ushul ad-Dien, oleh Abdullah Syibr (2/189)

  • Syiah berkata: Terlontarnya lafadz syirik dan kufur kepada orang yang tidak meyakini Imamah Amirul Mukminin (Ali bin Abu Thalib RA) dan para imam dari anak keturunannya, serta lebih mengutamakan yang lain daripada mereka, adalah bukti bahwa mereka kekal di dalam neraka.

Lihat: Kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majlisi (23/390)

 

Sikap Buruk Syiah terhadap Nabi SAW, Putri dan keluarganya

  • Syiah berkata: Ketika Nabi SAW dilahirkan, beliau hidup beberapa hari dalam

keadaan tidak mendapatkan air susu, sampai Abu Thalib menyusuinya dengan buah dadanya sendiri. Maka Allah menurunkan air susu di dalamnya, Nabi menyusu kepadanya selama beberapa hari, sampai Abu Thalib bertemu Halimah as-Sa’diyah dan menyerahkan kepadanya.

Lihat: Kitab Ushul al-Kahfi, oleh al-Kulaini (1/448)

  • Syiah berkata: Ali RA lebih berani daripada Nabi, bahkan sebenarnya Nabi SAW tidak pernah dikaruniai keberanian sama sekali.

Lihat: Kitab al-Anwar an-Nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (1/17)

  • Syiah berkata: Nabi SAW tidak tidur hingga beliau terlebih dulu mencium pipi Fathimah yang lesung atau belahan buah dadanya.

Lihat: Kitab Bihar al-Anwar, oleh Majlisi (42/43)

  • Syiah berkata: Nabi SAW tidak memiliki anak perempuan kecuali Fathimah, adapun Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Zainab hanya anak tiri saja.

Lihat: Kitab Dairatul Maarif al-Islamiyah (1/27)

  • Syiah berkata: Bahwa Hasan bin Ali RA adalah menghinakan kaum Muslimin, karena ia telah berbaiat kepada Muawiyah.

Lihat: Kitab Rijal al-Kussyi, oleh al-Kusyi, hal 103.

 

Memvonis Kafir Ummahatul Mukminin ( Istri Nabi SAW) Aisyah dan Hafshah RA    

  • Syiah berkata: Istri Nabi SAW bisa dihukumi kafir layaknya istri Nuh dan istri Luth.

Yang dimaksud istri Nabi SAW disini adalah Aisyah. Semoga Allah meridhainya, begitu pula ayahnya.

Lihat: Kitab Hadits al-Ifki, oleh Ja’far Murtadha hal. 17.

  • Syiah berkata: Aisyah RA telah murtad setelah wafatnya Nabi SAW sebagaimana murtadnya para sahabat dengan jumlah yang luar biasa besar.

Lihat: Kitab asy-Syihab ats-Tsaqib fi Bayani Makna an-Nashib oleh Yusuf al-Bahrani hal 236.

  • Syiah berkata: Ummul Mukminin Aisyah jatuh dalam perbuatan keji (zina)-Na’udzu billahi min dzalik-, adapun firman Allah SWT29447 (2)

mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang.” (An-Nur:26)

Ayat ini hanya pembersihan nama baik Nabi saja, bukan Aisyah. (Padahal maksudnya adalah Aisyah).

Lihat: Kitab as-Shirat al-Mustaqim, oleh Zainudin an-Nabathi al-Bayadhi (3/165)

  • Syiah berkata: Hafshah kafir, karena ayat:29447 (3)

Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu.”

(At-Tahrim:3), dalam ayat ini Allah berbicara tentangnya.

Dan tentang Aisyah RA, Allah SWT berfirman :

29444 (2)

Jika kalian bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah miring” (At-Tahrim:4), kalimat “Shaghat” dalam ayat ini bermakna “Zaaghat (miring)”, dan miring disini maksudnya kafir.

Menurut Syiah, Aisyah dan Hafshah juga bersekutu memberi racun ke dalam minuman Nabi SAW, maka tatkala Allah SWT memberitahu beliau tentang perbuatan mereka, beliau ingin sekali membunuh keduanya, namun mereka bersumpah tidak pernah melakukan hal itu, hinga Allah menurunkan ayat:

29444 (3)

Wahai orang-orang kafir janganlah kalian beralasan pada hari ini.” (At-Tahrim:7)

Lihat: Kitab as-Shirath al-Mustaqim, oleh Zainuddin an-Nabathi al-Bayadhi (3/168)

 

Sikap Ekstrim Syiah Terhadap Ali   

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah SWT berbicara dengan Rasulullah SAW pada malam al-Mi’raj dengan suara dan bahasa Ali bin Abu Thalib.

Lihat: Kitab Kasyfu al-Yaqin fi Fadhail Amiril Mukminin, oleh Hasn bin Yusuf bin al-Muthahhar al Hulli hal. 229.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Ali bin Abu Thalib RA adalah penanggung jawab surga dan neraka. Dialah yang punya otoritas penuh untuk memasukkan penduduk surga ke dalam surga dan penduduk neraka ke dalam neraka.

Lihat: Kitab Bashair ad-Darajat, oleh as-Shaffar, (8/235)

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah SWT memasukkan siapa saja yang taat kepada Ali ke dalam surga, meski dia bermaksiat kepada Allah. Sebaliknya Allah memasukkan siapa saja yang menentang Ali ke dalam neraka meski dia taat kepada Allah.

Lihat: Kitab Kasyfu al-Yaqin fi Fadhail Amiril Mukminin, oleh Hasan bin Yusuf al-Muthahhar al-Hulli hal. 8.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Ali bin Abu Thalib adalah rahasia tersembunyi para nabi. Karena itu Allah berfirman: Wahai Muhammad aku utus Ali bin Abu Thalib bersama para nabi secara tersembunyi, dan bersamamu secara nyata.

Lihat: Kitab al-asrar al-Alawiyah, oleh Muhammad al-Mas’udi hal. 181.

  • Syiah berkata: Ali RA adalah bukti kenabian Muhammad SWT, karena itu Nabi mengajak untuk mengakui dan menetapkan wilayah (kekuasaan) Ali.

Lihat: Kitab Bashair ad-Darajat, oleh Muhammad as-Shaffar hal. 91.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya Allah SWT tidak mengutus Nabi SAW kecuali telah memintanya agar menetapkan dan mengakui wilayah (kepemimpinan dan kekuasaan) Ali RA baik patuh atau terpaksa.

Lihat: Kitab al-Asrar al-Alawiyah, oleh Muhammad al-Mas’ud hal. 190.

  • Syiah berkata: Sesungguhnya dien (agama) tidak akan sempurna hingga mengakui wilayah (kepemimpinan) Ali RA.

Lihat: Kitab al-Ihtijaj, oleh at-Thabarsi (1/57)

 

sumber:

buku:  siapakah Syiah itu?

-Abdullah bin Muhammad

Hal. 1 – 17

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY